Banyak founder mengira sustainability report hanya urusan perusahaan tercatat di bursa. Anggapan itu sebagian benar: kewajiban hukumnya memang menyasar emiten dan lembaga jasa keuangan. Namun pertanyaan tentang lingkungan, tenaga kerja, dan tata kelola kini ikut muncul di ruang due diligence, dan startup yang sudah punya jawabannya tertulis lebih mudah meyakinkan.
Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya diwajibkan, apa yang biasanya ditanyakan investor, seperti apa laporan yang cukup untuk startup, dan bagaimana menyusunnya dalam 90 hari tanpa membangun birokrasi yang tidak perlu.
Poin Utama
- Sebagian besar startup tidak wajib menerbitkan sustainability report. Kewajiban hukum yang kami temukan menyasar emiten, lembaga jasa keuangan, dan perusahaan publik.
- Laporan tetap berguna sebagai bukti saat investor atau mitra korporasi menanyakan praktik ESG Anda. Laporan tidak menjamin pendanaan.
- Mulai dari laporan ringkas: isu yang material, data dasar, kebijakan inti, dan target yang realistis.
- Standar nasional PSPK 1 dan 2 berlaku efektif 1 Januari 2027 dan akan menjadi acuan yang dikenal investor. Startup bisa mengikuti arahnya lebih awal secara sukarela.
Apakah startup wajib membuat sustainability report?
Umumnya tidak. Kewajiban menerbitkan laporan keberlanjutan di Indonesia berlaku sejak 2019 lewat POJK 51/2017 dan mencakup emiten, lembaga jasa keuangan, dan perusahaan publik (Bisnis.com, 8 Oktober 2026). Startup yang belum IPO dan bukan lembaga jasa keuangan tidak termasuk di dalamnya.
Yang sedang berubah adalah standar teknisnya. Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia mengesahkan PSPK 1 dan PSPK 2 pada 1 Juli 2025. Keduanya mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2 dari ISSB, dan berlaku efektif untuk periode pelaporan per 1 Januari 2027 (Bisnis.com). Artinya, bahasa pelaporan yang dipakai pasar modal sedang diseragamkan, dan startup yang bercita-cita IPO sebaiknya mengenalnya sejak dini.
Ada tiga situasi lain ketika startup tetap perlu menyiapkan laporan walau tidak diwajibkan:
- Penggalangan dana. Investor mengajukan daftar pertanyaan due diligence, dan sebagian berisi pertanyaan ESG.
- Menjual ke korporasi besar. Perusahaan pelanggan sering meminta pemasoknya mengisi kuesioner keberlanjutan.
- Rencana IPO atau ekspansi regional. Menyusun data dari awal jauh lebih murah daripada merekonstruksinya di tahun kelima.
Mengapa investor peduli pada ESG startup?
Sebagian modal ventura di Indonesia memang menjadikan ESG bagian dari proses investasinya. East Ventures, misalnya, menyatakan menerapkan prinsip dan standar ESG serta manajemen dampak sebagai bagian dari keputusan investasinya, dan menerbitkan sustainability report tahunan sendiri, termasuk edisi 2023 (siaran pers East Ventures, 13 Juni 2023). Investor semacam ini cenderung bertanya hal serupa kepada perusahaan portofolionya.
Alasan praktisnya bisa dipahami dari sisi risiko. Praktik yang buruk, seperti pengelolaan data pengguna yang longgar, ketenagakerjaan yang bermasalah, atau tata kelola yang tidak jelas, dapat menjadi masalah hukum dan reputasi setelah investasi masuk. Laporan yang jujur menunjukkan bahwa pendiri sudah memetakan risiko itu.
Satu catatan penting: kami tidak menemukan data publik yang menyebut seberapa sering sustainability report menjadi syarat pendanaan tahap awal di Indonesia. Anggaplah laporan sebagai bukti pendukung yang memperkuat cerita bisnis Anda, bukan tiket pendanaan.
Apa yang biasanya ditanyakan investor
Pertanyaan berikut adalah rangkuman praktik umum due diligence, bukan daftar resmi dari satu investor tertentu. Gunakan sebagai bahan latihan: kalau Anda belum bisa menjawab dengan dokumen, di situlah pekerjaan awalnya.
| Area | Pertanyaan yang mungkin muncul | Bukti yang membantu |
|---|---|---|
| Lingkungan | Berapa konsumsi energi dan emisi operasional? Bagaimana pengelolaan limbah, termasuk limbah elektronik atau B3 bila ada? | Tagihan listrik, inventarisasi emisi sederhana, kontrak pengelola limbah |
| Sosial | Bagaimana kondisi kerja, keselamatan, kesetaraan, dan perlakuan terhadap mitra atau pekerja lepas? | Kontrak kerja, kebijakan K3, data keberagaman, mekanisme pengaduan |
| Tata kelola | Siapa yang bertanggung jawab atas risiko? Bagaimana kebijakan anti-korupsi, benturan kepentingan, dan perlindungan data pengguna? | Kode etik, struktur pengurus, kebijakan privasi sesuai UU PDP (UU No. 27 Tahun 2022) |
| Dampak bisnis | Apakah produk Anda mengurangi atau justru menambah beban lingkungan dan sosial? | Metrik dampak yang dapat dihitung, bukan klaim umum |
| Kepatuhan | Apakah izin dan dokumen lingkungan yang dibutuhkan usaha sudah lengkap? | SPPL, UKL-UPL, atau dokumen lain sesuai skala dan jenis usaha |
Isi sustainability report versi startup
Laporan untuk startup tidak perlu setebal laporan emiten. Struktur berikut cukup untuk sebagian besar kebutuhan awal dan bisa dikembangkan seiring pertumbuhan perusahaan:
- Profil dan model bisnis. Apa yang Anda jual, kepada siapa, dan di mana beroperasi.
- Isu material. Tiga sampai lima isu ESG yang paling memengaruhi bisnis Anda, beserta alasannya. Startup logistik akan menaruh emisi transportasi di sini, sedangkan fintech akan menaruh perlindungan data dan inklusi.
- Tata kelola keberlanjutan. Siapa penanggung jawab, seberapa sering dibahas di tingkat pendiri atau dewan.
- Kinerja lingkungan. Energi, emisi Scope 1 dan 2, air, dan limbah, dengan metode hitung yang ditulis jelas.
- Kinerja sosial. Jumlah dan komposisi tenaga kerja, keselamatan kerja, pelatihan, dan perlakuan terhadap mitra.
- Etika dan kepatuhan. Kebijakan inti, izin yang dimiliki, dan kasus pelanggaran bila ada.
- Target 12 sampai 24 bulan. Beberapa target terukur yang benar-benar bisa dicapai.
- Catatan metodologi dan batasan data. Bagian ini justru menambah kepercayaan karena menunjukkan bahwa Anda tidak menyembunyikan celah.
Jejak emisi biasanya menjadi bagian yang paling sulit bagi pemula. Kami menjelaskan cara menghitungnya di artikel Jejak Karbon Anda: Pahami, Hitung, dan Kurangi untuk Bisnis yang Bertanggung Jawab.
Standar mana yang sebaiknya dipakai?
PSPK 1 dan 2 (IFRS S1 dan S2)
Ini arah nasional untuk pelaporan keberlanjutan yang berorientasi investor. Keduanya memiliki empat konten inti: tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target. Menurut perwakilan IAI yang dikutip Bisnis.com, fokusnya bergeser dari dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat menjadi dampak isu-isu itu terhadap perusahaan. Untuk startup yang ingin IPO, keempat pilar ini adalah kerangka yang baik untuk menyusun cerita.
VSME dari EFRAG
VSME adalah standar sukarela untuk usaha kecil dan menengah yang disusun EFRAG di Eropa. EFRAG merilis template digitalnya berbentuk Excel pada Mei 2025, dengan sasaran perusahaan berkaryawan kurang dari 250 orang (XBRL International). Standar ini bukan kewajiban di Indonesia, tetapi bentuknya yang ringkas membantu startup yang punya investor atau pelanggan di Eropa.
GRI
GRI adalah standar yang luas dipakai untuk melaporkan dampak organisasi. Ia lebih cocok bila laporan Anda juga ditujukan untuk publik, pelanggan, dan komunitas, bukan hanya investor.
Untuk tahap awal, pilih satu kerangka sebagai acuan dan jelaskan di laporan mengapa Anda memilihnya. Jangan mengklaim "sesuai standar" bila baru mengadopsi sebagian.
Rencana 90 hari menyusun laporan pertama
- Hari 1 sampai 30: tentukan cakupan dan penanggung jawab. Tetapkan entitas dan periode yang dilaporkan, tunjuk satu penanggung jawab, dan pilih isu material lewat diskusi singkat dengan tim, investor, dan pelanggan utama.
- Hari 31 sampai 60: bangun data dasar. Petakan sumber data tiap indikator: dari mana datangnya, satuannya, siapa yang memegang, dan seberapa sering dikumpulkan. Mulailah dengan data yang sudah ada, seperti tagihan energi dan data kepegawaian.
- Hari 61 sampai 90: tulis, uji, dan terbitkan. Susun laporan, minta tinjauan dari bagian keuangan dan hukum, lalu uji coba dengan data tahun lalu untuk menemukan celah sebelum dibaca pihak luar.
Urutan ini serupa dengan saran para praktisi untuk emiten yang kini bersiap menghadapi PSPK: tetapkan cakupan, bangun mesin data, lakukan uji coba. Startup hanya menjalankannya dalam skala lebih kecil.
Kesalahan yang paling sering merugikan startup
- Klaim tanpa bukti. "Ramah lingkungan" tanpa angka atau dokumen mudah dipatahkan saat due diligence dan merusak kepercayaan pada bagian lain pitch.
- Terlalu ambisius. Target nol emisi tanpa rencana kurang meyakinkan dibanding tiga target kecil yang tercapai.
- Membuatnya hanya untuk satu pitch. Data yang tidak diperbarui tiap tahun cepat basi. Jadikan laporan ini bagian dari siklus tahunan.
- Mengabaikan kepatuhan dasar. Laporan yang indah tidak menolong bila izin atau dokumen lingkungan usaha belum lengkap.
Pendanaan hijau: ada contoh nyata
Contoh yang bisa dirujuk adalah kerja sama Badan Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan UNDP. Pada Desember 2023, program ini memberi pendanaan katalitik US$100.000 untuk masing-masing dari empat startup (total US$400.000), yakni Greenhope, Cakap, FishLog, dan Delos. Dana dicairkan dalam tiga tahap dan disertai pendampingan untuk meningkatkan kualitas ESG. Setelah program, para startup diharapkan memperoleh pembiayaan dari Mandiri Capital Investasi (InvestorTrust).
Contoh ini menunjukkan bahwa kesiapan ESG dapat membuka pintu ke jalur pembiayaan tertentu, bukan bahwa semua startup akan memperolehnya. Program seperti ini biasanya punya kriteria dan periode sendiri, jadi periksa pengumuman terbaru dari lembaga terkait.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah startup yang belum menghasilkan pendapatan perlu sustainability report?
Belum perlu laporan formal. Yang berguna di tahap ini adalah satu halaman kebijakan inti, data dasar yang rapi, dan jawaban tertulis untuk pertanyaan ESG yang lazim. Laporan lengkap bisa menyusul setelah operasi berjalan.
Perlu diaudit pihak ketiga?
Untuk startup, biasanya belum. Sumber yang kami rujuk menyebut belum ada ketentuan yang mewajibkan asurans eksternal atas laporan ESG di Indonesia, meski sebagian perusahaan memverifikasinya secara sukarela untuk memenuhi tuntutan investor internasional. Pastikan saja datanya dapat dilacak ke dokumen sumber.
Berapa lama menyusun laporan pertama?
Rencana 90 hari di atas realistis bila ada satu penanggung jawab dan data dasar sudah tersedia. Waktu terbesar biasanya habis untuk mengumpulkan data, bukan menulis.
Apakah sustainability report sama dengan dokumen lingkungan seperti UKL-UPL?
Tidak. Dokumen lingkungan seperti AMDAL, UKL-UPL, atau SPPL adalah persyaratan perizinan untuk usaha. Sustainability report adalah laporan kinerja keberlanjutan perusahaan. Keduanya saling melengkapi, dan investor yang cermat akan menanyakan keduanya.
Bantuan Swarna
Swarna Enviro Indonesia mendampingi perusahaan menyusun ESG dan Sustainability Report, dari pemetaan isu material sampai laporan siap terbit. Ceritakan tahap dan kebutuhan startup Anda, dan kami bantu menentukan langkah awal yang proporsional.