Percakapan tentang ESG (Environmental, Social, and Governance) di ruang rapat direksi Indonesia telah berubah drastis dalam lima tahun terakhir. Dulu, topik ini kerap dianggap sebagai “biaya kepatuhan” semata—urusan bagian humas atau legal semata untuk memenuhi kewajiban pelaporan OJK. Namun kini, ESG telah berevolusi. Ia menjadi bahasa baru dalam strategi pertumbuhan.
Temuan RSM Indonesia ESG Survey 2025 menegaskan pergeseran ini: 72,5% perusahaan kini telah memiliki anggaran khusus untuk keberlanjutan, dan 67% di antaranya berencana menaikkan anggaran tersebut di tahun depan . Ini bukan lagi soal pencitraan. Ini soal daya saing.
Namun, di balik angka optimistis itu, tersimpan kegelisahan yang dirasakan banyak eksekutif: “Kami tahu ESG itu penting, tapi dari mana harus memulai? Bagaimana agar tidak hanya sekadar laporan, tapi benar-benar berdampak?”
Untuk menjawabnya, kita tidak perlu mencari contoh dari Eropa atau Amerika. Dua korporasi besar Indonesia, Unilever Indonesia dan Telkom Indonesia telah menyediakan panggung pembelajaran yang utuh. Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, namun sama-sama memperlihatkan bahwa implementasi ESG yang sukses tidak harus selalu dimulai dari teknologi mahal, melainkan dari keberanian untuk membaca konteks lokal.
Unilever: Dari Mesin Canggih ke Jeriken di Punggung Motor
Ketika Unilever pertama kali meluncurkan pilot project refill packaging di Indonesia pada 2018, mereka membawa mesin digital canggih yang ditempatkan di apartemen mewah Jakarta. Asumsinya sederhana: konsumen kelas menengah yang peduli lingkungan akan antusias mengisi ulang sampo dan deterjen. Hasilnya? Kurang memuaskan .
Lantas, apa yang dilakukan Unilever? Mereka tidak memaksakan teknologi, mereka justru mundur selangkah untuk melompat lebih jauh. Alih-alih mesin, mereka menggunakan sepeda motor dengan jeriken besar yang berkeliling kampung. Model door-to-door ini ternyata jauh lebih populer. Ibu-ibu rumah tangga tidak perlu repot membawa botol ke mal; cukup menunggu di teras, botol mereka diisi ulang dengan harga 20% lebih murah dari kemasan baru .
Hingga saat ini, Unilever telah melayani sekitar 6.000 pelanggan melalui 1.000 stasiun isi ulang yang tersebar di warung-warung dan bank sampah. Mereka berhasil menghemat 6 ton plastik per tahun .
Pelajaran pertama dari Unilever adalah: Keberlanjutan tidak boleh memaksa konsumen berkorban. Mereka tetap ingin murah, praktis, dan berkualitas. Inovasi ESG yang sukses adalah inovasi yang menghilangkan gesekan (friction) dalam perilaku hijau.
Lebih dari itu, Unilever menunjukkan komitmen pada isu dekarbonisasi hulu. Di pabrik oleokimia mereka di Sei Mangkei, Sumatera Utara, Unilever menjadi pelaku komersial pertama di Indonesia yang mengganti gas alam dengan biometana dari limbah cair kelapa sawit (POME). Bermitra dengan KIS Group, mereka tidak hanya mengurangi emisi Scope 1, tetapi juga menciptakan pasar baru bagi energi terbarukan lokal. Ini adalah contoh nyata bagaimana decarbonization bisa berjalan seiring dengan efisiensi biaya .
Telkom: Ketika Infrastruktur Digital Bertemu Kebutuhan Dasar Manusia
Jika Unilever bergerak dari hilir (kemasan) ke hulu (energi), Telkom Indonesia mengambil jalur berbeda: menjadikan ESG sebagai kerangka kerja korporasi total.
Lewat inisiatif “GoZero% – Sustainability Action”, Telkom membagi strategi ESG mereka ke dalam tiga pilar yang aplikatif: Save Our Planet (lingkungan), Empower Our People (sosial), dan Elevate Our Business (tata kelola) . Pendekatan ini menarik karena Telkom tidak memisahkan urusan sosial dari bisnis inti.
Contoh paling konkret adalah program penyediaan air bersih. Di tengah hiruk-pikuk gemerlap transformasi digital, Telkom justru turun ke desa-desa dan membangun 51 titik akses air bersih di kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar) seperti Mentawai dan Gunung Kidul .
Mengapa perusahaan telekomunikasi peduli air bersih? Bagi Telkom, ini bukan sekadar filantropi. Tanpa air bersih, masyarakat tidak akan produktif. Tanpa produktivitas, adopsi teknologi digital tidak akan optimal. Dengan kata lain, Telkom menyadari bahwa bisnis mereka tidak akan tumbuh di atas komunitas yang sakit.
Dampaknya terasa nyata. Nita, seorang ibu rumah tangga di Desa Borisallo, Sulawesi Selatan, bercerita bahwa ia dulu harus berjalan berkilo-meter dan mengantre berjam-jam untuk mendapatkan air. Kini, air mengalir di dekat rumahnya . Dampak sosial seperti inilah yang tidak tercermin di laporan keuangan, namun tercatat sempurna dalam penilaian ESG.
Di sisi tata kelola, Telkom menjadi salah satu BUMN paling progresif dengan sertifikasi ISO 37001 (Sistem Manajemen Anti Penyuapan) yang diterapkan hingga ke 13 anak perusahaan. Seluruh karyawan juga telah menandatangani pakta integritas—sebuah fondasi penting agar agenda keberlanjutan tidak rapuh oleh risiko korupsi .
Pelajaran kedua dari Telkom adalah: ESG bukanlah proyek sampingan, melainkan cara pandang baru dalam menjalankan bisnis. Ketika tiga pilar ESG diintegrasikan ke dalam strategi inti, maka program sosial tidak lagi menjadi beban CSR, melainkan investasi sosial jangka panjang yang memperkuat ekosistem bisnis.
Potret Tantangan: Antara Niat dan Eksekusi
Meski Unilever dan Telkom telah melangkah jauh, mereka adalah pengecualian, bukan kebiasaan. Survei RSM Indonesia menunjukkan bahwa 64% perusahaan masih menganggap kompleksitas regulasi sebagai tantangan utama . Hal ini diperparah oleh ketidaksamaan standar pemeringkatan antar lembaga seperti MSCI, Sustainalytics, atau Refinitiv. Satu perusahaan bisa mendapat skor "A" dari satu lembaga, namun hanya "Medium Risk" di lembaga lain .
Di sinilah banyak perusahaan terjebak. Mereka sibuk mengumpulkan data untuk memenuhi ekspektasi pemeringkat internasional, namun lupa bahwa ESG sejatinya dimulai dari identifikasi risiko dan peluang yang kontekstual dengan industri dan geografi mereka.
Apakah perusahaan manufaktur di Karawang memiliki tantangan ESG yang sama dengan perusahaan tambang di Kalimantan? Jelas berbeda. Lantas, mengapa pendekatan mereka sering kali seragam?
Rahasia Sukses: Adaptasi, Kolaborasi, dan Keberanian Mengukur Dampak
Dua studi kasus di atas mengajarkan satu hal: tidak ada resep tunggal dalam ESG. Unilever sukses karena berani mengakui bahwa mesin digital mereka gagal dan beralih ke model yang lebih lokal. Telkom sukses karena tidak sekadar membangun infrastruktur digital, tapi juga infrastruktur sosial.
Rahasia pertama adalah adaptasi kontekstual. Standar global penting, tapi peta jalan ESG harus ditulis dengan tinta lokal. Apa yang menjadi masalah material di Belgia (misalnya efisiensi energi karena harga listrik mahal), belum tentu menjadi masalah utama di Indonesia (misalnya akses air bersih atau pengelolaan limbah B3).
Rahasia kedua adalah kolaborasi. Tidak ada satupun inisiatif Unilever yang berjalan sendiri. Mereka bekerja sama dengan Alner (entitas sosial), KIS Group (penyedia teknologi biogas), dan jaringan bank sampah. Telkom juga bermitra dengan UGM dan pemerintah desa. ESG bukan ajang adu cepat sendiri, melainkan estafet yang harus dijalankan bersama.
Rahasia ketiga adalah pergeseran dari aktivitas ke dampak. Selama bertahun-tahun, laporan keberlanjutan dipenuhi foto-foto seremonial. Kini, investor dan regulator ingin tahu: berapa ton emisi yang ditekan? berapa orang yang benar-benar mendapat akses air bersih? berapa persen pengurangan penggunaan plastik virgin? Unilever menyebut angka 6 ton/tahun. Telkom menyebut 51 titik fasilitas. Angka-angka ini sederhana, namun ia adalah bentuk akuntabilitas.
Jalan ke Depan: ESG Butuh Navigator
Transformasi ESG adalah perjalanan panjang. Tidak semua perusahaan memiliki keleluasaan seperti Unilever yang dapat melakukan 50 pilot project sejak 2018, atau seperti Telkom dengan tim Group Sustainability yang kuat. Mayoritas perusahaan di Indonesia masih bergulat dengan pertanyaan mendasar: “Bagaimana menyusun strategi ESG yang efektif, efisien, dan tetap relevan dengan bisnis kami?”
Di sinilah peran konsultan strategis menjadi krusial. Bukan sekadar untuk menyusun dokumen, tetapi untuk membaca peta jalan, mengidentifikasi materialitas, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan untuk program keberlanjutan memberikan dampak yang terukur.
🚀 Saatnya Bergerak: Jadikan ESG Strategi Pertumbuhan Anda
Dari memerangi sampah plastik hingga menyediakan air bersih, praktik ESG yang baik terbukti mampu melampaui ekspektasi pasar dan menciptakan loyalitas pemangku kepentingan. Namun, setiap organisasi memiliki titik awal yang berbeda. Anda tidak perlu memulai dari skala raksasa seperti Unilever atau Telkom. Anda hanya perlu memulai dengan tepat.
Kami di PT Swarna Enviro Consulting hadir sebagai mitra strategis untuk perjalanan ESG Anda. Dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di sektor jasa lingkungan, kami tidak hanya membantu penyusunan dokumen teknis seperti UKL-UPL, PERTEK Air Limbah, atau pengelolaan limbah B3. Lebih dari itu, kami membantu Anda menerjemahkan regulasi yang kompleks menjadi aksi nyata yang sesuai dengan kapasitas dan tujuan bisnis Anda .
Berlokasi di Bandung dan melayani berbagai sektor industri, tim kami percaya bahwa keberlanjutan sejati lahir dari keseimbangan antara kepatuhan regulasi, kelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi. K
Jadikan perusahaan Anda bagian dari gelombang transformasi ESG Indonesia. Jangan biarkan kompleksitas regulasi menghambat niat baik Anda.
🌐 Kunjungi kami di www.swarnaenviro.id untuk diskusi awal dan asesmen kesiapan ESG perusahaan Anda.
Karena masa depan bisnis yang berkelanjutan tidak menunggu mereka yang sempurna, tetapi mereka yang berani memulai.